Head

Senin, 30 April 2012

Melabuh Cakrawala

Melayangkan pandang pada hamparan nan tenang,
cerita angin berhembus kepada sang caping
yang diam menunggu
Merajut buih seperti simpul tangis dan mendung tawa,
saling beradu kejar menuju luas tatapan mata.
Menuju tenggelam.

Buih-buih saling bekejaran di tengah ambang yang tak berujung,
terombang-ambing dalam keheningan yang misterius

Kepak sayap sepasang awan
sampai mampu mengalahkan camar camar
yang sebenarnya sedang menuju darat.

Terkadang bulir salju,
derapnya yang bergulung-gulung menjatuh cintai anak-anak pasir,
sebutir demi sebutir

Membasahi pipi yang pernah merona
hingga diseka oleh ombak yang terkadang malu.
Sudikah batu karang melembutkan tegarnya?

Banyu yang saling bercerita tentang birunya rindu
ketika awan merah terududuk manis di pintu langit

Anak anak sungai berduyun ke tepi pantai,
dengan senyum lugu dan gemericik tawa,
menenangkan badai entah di tengah sana.

Di sinilah bumi dan langit bersatu,
dan seketika wajahku tertegun
melihat sang pencipta di antara cakrawala.

Dentumannya membahana.
Teriaknya berirama.
Melarutkan raga,
membasuh peluh.

KerajaanNya membahana di perutnya.
Berjuta rahasia membalut sukma kehidupannya.
Berdenyut selaras seirama.
di wajahnya.

Angkasa memantulkan larik selaba berbuih,
refleksi kasat nan cantik

Tak akan meredup cahayanya hingga luna terbit ke bawah pantulan air,
tanpa ada satu pun yang menggantungnya di dinding langit

Seakan hendak menerkam,
tarian ombak ini cukup membuatku geram
meskipun terkadang terlalu indah untuk direkam.

Hingga munculnya pelangi hanya sebatas angan,
ikan ikan hanya akan menari dengan sendu
yang mereka simpan kemarin.

Juga jala mereka yang menunggu gelembung bersisik berkubang di dalamnya.
Sang penjelajah keterasingan

Sekedar #BelajarPuisi di antara imaji dan kenyataan
Noval Suryanata
Dimas Kurnia Setyawan
Ferika Amalia