Head

Kamis, 19 April 2012

Simphoni Hujan

Sendu mentari tertutup kelambu kelabu
menyiratkan bentang tanya pada sepasang angin yang berkejaran.
serupa anak kecil di sudut pilar.
matanya terlihat murung serta nafasnya yang mulai dingin.


Menarik selimut embun dari derai air mata langit,
sebelum menebarnya seluas tatapan mata yang mengerling.

buih kehidupan beterbangan menghampiri langit, menjumpai awan.
mereka bercumbu layaknya sepasang kekasih yang mabuk rindu

gemerciknya pilu mendayu,
irama serasa menerpa raga.
tak ingin berhenti!

Tidak banyak, sedikit, namun mampu meredakan kehidupan,
hingar bingar yang bertebaran
Meski terkesan ragu untuk menghujam,
atau mengecup permadani pasir dengan bibir langit yang tampak basah.

butir2 nyawa yang turun,
saling mendahului dan berkejaran menyentuh kenyataan.
warna tanah yang berkahwin dengan sang rintik

Sesaat mereka bersentuhan,
rerumputan serentak menghembuskan nafasnya,
Menyampaikan pesannya yang khas,
aroma kehidupan

pijak pijak kaki yang menyapanya,
terpana,
terbawa hamparan peraduan beralaskan kehangatan

rona sendu yang saga mencuri dengar pembicaraan intim kami,
rintik air dan debu jalanan
Menetes lembut di pekarangan,
menemani senja menuju gelap.

Dan menyampaikan alunan merdu desis air yang tertepis dedaunan,
hingga berpelukan di sungai sungai kecil.

bercak dan genangan adalah tanda cinta
ketika mereka saling mempersunting satu sama lain

Pelangi menjadi saksi kesempurnaan kasih sayang mentari.
Bentuk nyata senyumnya yang hanya bisa terasa kala pagi menghilang

tiap pecahan butirnya menanyikan senandung gemericik
tentang pernikahan langit dan bumi,
dan kami sebagai saksinya

Aku ingin berkata kepada mereka,
tidak perlu menjadi besar untuk membuat perubahan.

Sekedar #BelajarPuisi bersama,
Noval Suryanata
Daniela Hawwa Madinah
Dimas Kurnia Setyawan
Ferika Amalia

Arranged By: