Head

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Juli 2021

Kini

 

Mentari sore itu seolah-olah sedang mengemasi apa saja yang mampu dijangkau oleh cahayanya. Ia sudah siap untuk menyelinap diam-diam ke balik cakrawala agar tidak berpapasan dengan rembulan. Pepohonan, jalan raya, pedagang asongan, pengamen cilik, kendaraan yang saling menderu riuh-rendah menyemarakkan kemacetan di Jakarta, dan gedung-gedung perkantoran tidak luput dari sapuan cahaya keemasannya. Tidak terkecuali sebuah kafe kecil di suatu sudut Darmawangsa, Jakarta Selatan, tempat aku menghabiskan hari-hariku.

Kafe kecil itu memiliki kesan tersendiri bagiku. Di sana aku selalu merasa hiruk-pikuk yang ada di kepalaku tertinggal di pintu masuk, dekat keset cokelat besar bertuliskan selamat datang. Setiap kali aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kafe itu, aku seolah-olah memasuki dunia yang berbeda. Sebuah dunia di mana aku bisa merasakan sebuah kesendirian di tengah keramaian. Tidak ada pikiran-pikiran yang mengganjal di benakku, tidak pula dengan segala rencana pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh otakku. Hanya aku dan diriku. Namun, tidak dengan hari ini.

Aku menghampiri sebuah meja kayu dengan dua buah sofa kecil yang saling berhadapan. Lalu aku meletakkan tasku di meja kemudian menghempaskan diriku ke pelukan sofa kecil yang nyaman itu. Sebuah sudut favoritku; bagian kanan bersisian dengan jendela yang menghadap ke jalan raya, bagian belakang bersisian dengan dinding, dan aku juga bisa melihat siapa saja yang keluar-masuk kafe ini dengan mudah. Lagu-lagu slow rock terdengar sayup-sayup dari pengeras suara yang terpasang di beberapa sudut kafe, salah satunya di dinding dekat sofaku. Tidak lama kemudian, seorang pramusaji menghampiriku dari sebelah kiri sambil membawa sebuah buku menu.

“Selamat sore, emm... mau pesan apa hari ini... pak?” kata pramusaji itu sedikit gugup tetapi berusaha ramah. Sepertinya hari ini adalah hari besar pertamanya, karena kulihat ada tulisan ‘TRAINEE’ di kertas nama yang dikaitkan di saku bajunya. Kurasa, jika aku pesan minuman yang biasa aku pesan, ia akan kesulitan untuk mengingatnya.

“Saya mau iced green tea latte, gulanya sedikit saja, ya. Lalu saya mau kentang goreng, dan sandwich tuna”, kataku sambil merapikan posisi dudukku.

Green tea latte... iced, ya? Lalu french fries, dan sandwich tuna”, sahut pramusaji itu sambil menyelesaikan tulisan di sebuah buku kecil di tangan kirinya. Ia tampak berusaha keras untuk menulis segala detail pesanan yang ia terima, alisnya pun kini berkerut, wajahnya menegang. “Ada lagi, pak?”

“Nanti kalau ada lagi, menyusul, ya”, kataku sambil mengeluarkan sebungkus rokok dan korek dari dalam saku jaketku.

“Baik, pesanannya ditunggu sepuluh menit, ya pak.” Pramusaji itu kemudian mengambilkanku sebuah asbak putih dari balik meja karyawan, lalu pergi untuk menyelesaikan pesananku. Aku menyalakan sebatang rokok lalu menyandarkan diri kembali ke sofa. Asap putih tipis membumbung ke udara kemudian tertiup angin keluar melalui jendela. Inilah yang membuatku senang duduk di sudut ini. Namun, aku seakan tidak memiliki firasat bahwa sepuluh menit ini akan menjadi sepuluh menit yang paling penting dalam hidupku.

Aku mengeluarkan sebuah novel dari dalam tasku, lalu aku meletakkan tasku di sofa kosong di hadapanku. Pertemuanku dengan novel ini bisa dikatakan terjadi secara tidak sengaja. Saat itu aku sedang mencari buku tentang Jalan Raya Pos yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer di sebuah toko buku. Aku seharusnya mencari di rak buku tentang sejarah, tetapi tanpa sadar aku melangkahkan kakiku hingga aku tiba di rak buku tentang misteri. Ketika aku tersadar bahwa aku mencari di rak yang salah, mataku tertuju pada sebuah buku bersampul hitam berjudul ‘The Book With No Name’ yang ditulis dengan tinta berwarna merah. Rasa penasaranku langsung tergelitik, dan tanpa pikir panjang, aku langsung membelinya.

Kini, buku itu sudah kulahap hampir setengahnya. Kubuka buku itu di bagian yang sudah kutandai, kemudian aku terhanyut ke dalam cerita dalam buku itu. Lima menit telah berlalu seakan-akan hanya terjadi dalam satu kedipan mata. Tanpa sadar rokok yang sedari tadi aku hisap kini sudah menjadi puntung di asbak. Aku kembali menyalakan sebatang rokok untuk menemani waktuku berkencan dengan novel itu sembari menunggu pesananku tiba. Baru satu kali aku menghisap rokokku, tiba-tiba aku menangkap dari sudut mataku sesosok perempuan memasuki kafe ini. Sosok perempuan itu sangat tidak asing bagiku, meskipun kini tampilannya sudah berbeda sekali. Pandanganku langsung tertuju pada sosok perempuan itu, dan aku menatapnya lekat-lekat. Waktu terasa seolah-olah berhenti, nafasku terasa sesak. Ada sebuah perasaan aneh yang menjalar dari ujung kaki ke ujung kepalaku. Segala kenangan tentang perempuan itu seakan diputar kembali dalam benakku.

Dulu, kami pernah pergi ke sebuah toko buku untuk sekadar membaca novel fiksi. Saat itu aku sedang suntuk di kampus dan tidak bisa berbuat banyak karena sudah akhir bulan dan uang bulanan belum dikirim oleh orang tua. Tiba-tiba ia minta diantarkan ke toko buku. Akhirnya aku mengiakan dan kami pergi dengan berjalan kaki ke toko buku itu. Di sana, kami mencari novel-novel yang sudah terbuka segelnya, entah oleh siapa, dan membacanya.  Ia menyandarkan kepalanya ke bahuku, kemudian kami terhanyut oleh cerita di dalam novel yang kami baca, hingga tanpa terasa hari sudah gelap dan kami memutuskan untuk pulang setelah satpam yang sedari tadi memerhatikan kami akhirnya jengkel dan mengusir kami. Kini, ia terlihat necis dengan blazer yang tampak mahal. Sudah pasti ia bisa membeli dan membaca buku apapun yang ia suka.

Pernah juga pada saat itu kami berdua makan hanya satu kali tiap hari, dan itu pun terpaksa berhutang kepada ibu kantin di kampus. Kami adalah mahasiswa rantau yang harus berjuang bukan hanya soal akademis, tetapi juga soal perut. Sebenarnya agak berlebihan jika dikatakan sebagai mahasiswa perantau, sebab ia tinggal di Mampang sedangkan aku di Bekasi, dan kampus kami ada di Depok. Hanya saja, kami seperti mendramatisir keadaan dengan memilih untuk menetap di rumah kos masing-masing selama masih kuliah. Akhirnya, kami berdua terlihat kurus dan tampak seperti orang yang kurang sehat. Kini, pipinya tidak lagi terlihat tirus, dan badannya tampak lebih berisi. Sepertinya ia sudah bisa merawat dirinya dengan baik.

Kami pernah mengikat hubungan kami dengan sepasang cincin yang tersemat di jari manis kami. Sudah empat tahun usia hubungan kami saat itu, dan aku memutuskan untuk merencanakan langkah berikutnya. Aku menabung sekuat tenaga selama sekitar satu tahun hingga akhirnya aku mengajaknya ke Blok M untuk membeli sepasang cincin dari perak. Satu aku pasangkan di jari manisnya, satunya lagi ia pasangkan di jari manisku. Setelahnya, kami merencanakan dengan matang apa-apa saja yang diperlukan untuk hubungan yang lebih serius. Namun, semesta seakan memiliki rencana lain untuk kami. Aku melakukan sebuah kesalahan yang membuat ia memutuskan untuk menyudahi hubungan kami. Saat itu, ia berkata bahwa ia akan kembali jika aku mampu mengubah perilakuku ke arah yang lebih baik. Kini, ia hanya berjarak beberapa langkah dariku. Jika semesta mengatur setiap perpisahan, tentu ia juga mengatur setiap pertemuan kembali. Aku mencoba mengumpulkan keberanianku dan menghentikan kenangan-kenangan yang terus diputar ulang dalam benakku. Keringat dingin mendadak muncul di keningku ketika pandangan kami bertemu setelah sekian lama. Matanya yang agak sayu menatap ke arahku, seolah-olah memberikan angin sejuk yang menghadirkan ketenangan. Hanya itu yang tidak berubah hingga kini. Sayup-sayup terdengar lagu Firehouse yang berjudul ‘When I Look Into Your Eyes’ dari pengeras suara. Aku pun memantapkan hati dan memutuskan untuk menghampirinya.

“Rara? Apa kabar?” kataku sedikit gugup. Tanganku kini terasa sangat dingin.

“Angga! Ya ampun, kirain siapa. Baik, baik... Alhamdulillah. Lu sendiri gimana kabarnya?” Rara memasukkan tangan kirinya ke dalam saku blazernya, kemudian ia tersenyum manis kepadaku.

“Alhamdulillah, gue juga baik-baik aja nih. Udah rada gendutan juga.”

“Bisa aja lu!” ujar Rara sambil menepuk lengan kiriku dengan tangan kanannya, lalu ia tertawa kecil. “Lagi ngapain lu di sini, Ngga?”

“Oh, ini... Gue lagi nyantai aja. Baca buku sambil nunggu pesenan gue dateng. Yuk, barengan aja sini.” Aku mulai mencoba untuk mencairkan suasana.

“Eh, gausah, gapapa kok. Gue cuma mau ambil pesenan aja sebentar. Suami gue nungguin tuh di mobil.”

“Oh... Iya...” jawabku kikuk. Tiba-tiba aku seperti diselimuti oleh kehampaan yang pekat. Hanya senyum terpaksa yang tampak pada wajahku.

“Angga, gue duluan ya. Dadah!” Rara terlihat mengambil bungkusan makanan yang diberikan oleh pramusaji, kemudian ia bergegas meninggalkan diriku yang kini menatap kosong ke arah punggungnya yang kian menjauh. Tanpa sadar, lagu yang terdengar dari pengeras suara sudah berganti menjadi lagu ‘She’s Gone’ yang dinyanyikan oleh Steelheart.

“Semesta kadang-kadang lucu, ya”, batinku, seraya kembali ke mejaku. Kembali ke kesendirianku.

 

Kamis, 17 Juni 2021

Shinta dan Pilihannya

 

Setelah pernikahannya dengan Rama, Shinta pindah ke Ayodhya, Ibukota Kerajaan Kosala bersama suaminya. Ayodhya adalah kota besar yang memiliki istana megah berwarna putih, dengan pilar-pilar yang menjulang di setiap sisi, taman-taman dan kolam air mancur menghiasi hampir di setiap sudut istana, dan pepohonan serta kebun bunga yang ditata begitu indah. Bahkan, jalan yang menuju pintu utama istana dilapisi marmer yang mengilap, sehingga siapapun yang berjalan di sana akan merasa seolah-olah sedang berjalan di atas kaca.  Meskipun Ayodhya adalah sebuah kota yang maju dan dipimpin oleh suaminya sendiri, Shinta melihatnya hanya sebagai kota besar pada umumnya. Orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada pedagang yang menjajakan porselen di tokonya, kereta kuda yang tak pernah berhenti hilir-mudik membawa padi, sayuran, dan hasil panen lainnya, dan pandai besi yang sedang menempa senjata di dalam bengkel kerjanya. Meskipun demikian, tidak ada hal istimewa dari Ayodhya yang mampu menarik perhatian Shinta selain Rama seorang.

Shinta memang telah berkomitmen untuk mencurahkan seluruh jiwa dan raganya kepada Rama semenjak mereka menikah. Baginya, siapa pun yang berhasil meregangkan tali busur sakti milik Dewa Siwa, layak untuk dipertahankan hingga ajal menjemput. Tidak ada satu orang pun yang mampu memisahkan kedekatan antara Shinta dengan Rama. Ke mana pun Rama pergi, Shinta selalu hadir menyertainya. Namun, belakangan ini Shinta terlihat gundah gulana. Ia sering berdiam diri di dalam kamarnya, memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Rama mulai sering bepergian jauh selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, dan melarang Shinta untuk ikut. Shinta mulai merasa ada sesuatu yang aneh pada diri Rama, tetapi di sisi lain, ia tidak mau melawan perintah suami yang dicintainya. Kegundahan Shinta memuncak ketika ia tidak diizinkan ikut berburu oleh Rama di hutan yang jaraknya tidak begitu jauh dari perbatasan kota.

“Kakanda, izinkanlah aku ikut berburu denganmu,” ujar Shinta sedikit memelas.

“Adindaku, tak tahukah engkau betapa berbahayanya hutan di tepi kota sana?” jawab Rama sedikit dingin.

“Kakanda, tak ada satu pun tempat yang berbahaya di muka bumi ini selama ada kakanda yang menyertaiku,” Shinta berjalan pelan menghampiri Rama.

“Aku tahu, adinda. Tetapi kumohon mengertilah betapa aku mencintaimu sepenuh hatiku. Aku tak mau sesuatu terjadi padamu ketika aku sedang berburu nanti,” Rama menjauh dari Shinta dan mulai menyiapkan pakaian untuk berburu.

“Apakah wujud cinta kakanda kepadaku adalah menjauhkan aku dari kakanda? Membiarkan hari-hariku tertutup awan kelabu, sementara mentari mengizinkan orang-orang di luar sana menari riang dan bernyanyi merdu?” Shinta berusaha mengendalikan nada suaranya agar Rama tidak tersinggung atas ucapannya. Rama yang sedang mempersiapkan pakaian berburunya pun sedikit tersentak dan menghentikan kegiatannya. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Aku hanya tak ingin mendampingi kakanda di saat senang saja. Maka, izinkanlah-“

“Baik. Baiklah. Aku mengerti, adinda,” ucap Rama memotong perkataan Shinta. “Aku akan memberikanmu satu syarat jika kau mau ikut berburu denganku,” sambung Rama dengan nada bicara yang mulai tegas.

“Tidak akan ada syarat yang lebih berat dari pada harus jauh darimu, kakanda.”

“Aku akan mengajak Laksmana saat berburu nanti. Aku ingin kau selalu di dekatnya, dan patuhi semua perintahnya.” Rama tampak sudah selesai mempersiapkan pakaian untuk berburu, kemudian memanggil pelayan untuk segera menyiapkan tunggangan.

Perasaan Shinta saat itu sangat senang. Senyumnya begitu lebar, dan wajahnya pun merona. Akhirnya ia boleh ikut berburu dengan Rama meskipun harus setuju dengan sebuah syarat. Namun, Shinta tampak tidak keberatan sama sekali dengan syarat yang diajukan oleh Rama. Awan mendung yang menyelimuti Shinta seolah-olah sirna dan berganti dengan pelanngi yang begitu indah.

Rombongan Rama, Shinta dan Laksmana akhirnya tiba di bibir hutan. Rama tanpa ragu langsung memasuki belantara itu, disusul oleh Shinta dan Laksmana. Cahaya matahari seakan-akan meredup seiring langkah kaki mereka yang semakin dalam memasuki hutan. Suasana di dalam hutan pun semakin sunyi dan mengerikan, hanya terdengar gemerisik dedaunan dari puncak pepohonan yang menjulang tinggi. Tidak ada rasa takut yang tampak dari raut wajah Shinta meskipun perjalanan semakin jauh ke jantung hutan, karena ia merasa aman di dekat Rama.

Tiba-tiba, Rama menghentikan langkahnya dan segera memasang sikap siaga. Shinta dan Laksmana sontak saja mengikutinya. Shinta melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa di kejauhan ada seekor rusa berwarna emas yang berkilauan. Rusa itu tampak sedang memakan dedaunan di sebuah bukit kecil di dalam hutan. Tanpa aba-aba, Rama melesat ke arah rusa itu dengan kecepatan yang luar biasa. Melihat ada ancaman yang datang, rusa itu pun melarikan diri tidak kalah cepatnya, sehingga mereka berdua menghilang dengan sekejap di kegelapan hutan belantara itu. Namun, tidak lama kemudian, Shinta mendengar jeritan Rama dari kejauhan. Dari suaranya, sepertinya Rama mengalami kesakitan yang luar biasa hebat. Pudar sudah keberanian Shinta yang sedari tadi ia tunjukkan, berganti dengan ketakutan yang amat sangat. Tubuh Shinta kini gemetar hebat. Air mata sudah terbendung di kedua matanya, siap untuk berderai kapan saja. Napasnya mulai terlihat tidak teratur.

Laksmana yang melihat kejadian itu langsung berusaha menenangkan Shinta, tetapi Shinta sudah tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia bersimpuh dan mulai menangis sejadi-jadinya. Tidak pikir panjang, Laksmana merapalkan sebuah mantra kemudian membuat lingkaran dari cahaya yang mengelilingi Shinta.

“Shinta, apapun yang terjadi, jangan pernah keluar dari lingkaran ini!”

“Tidak, Laksmana! Aku mau menolong Rama!” ujar Shinta sambil terisak.

“Kau sudah sangat menolong Rama jika kau tetap berada di dalam lingkaran ini!” Laksmana langsung melesat ke arah suara Rama meninggalkan Shinta di dalam lingkaran cahaya. Shinta yang tak kuasa menahan tangisannya, mau tidak mau harus menuruti perintah Laksmana, karena itu merupakan syarat yang ditetapkan oleh Rama. Akhirnya, Shinta mampu menenangkan dirinya dan menunggu di dalam lingkaran cahaya sambil sesekali terisak.

Tiba-tiba, dari arah belakang, muncul seorang kakek yang berjalan terhuyung-huyung sambil memegangi sisi kiri perutnya. Ia terluka di sekujur tubuhnya, dan ada sebuah luka menganga di bagian yang ia pegangi. Darah segar membasahi pakaian dan celananya. Kakek itu mengerang kesakitan dan meminta pertolongan kepada Shinta.

“Nak, tolong aku... Aku diserang binatang buas...” Kakek itu tersungkur di dekat lingkaran cahaya yang mengelilingi Shinta.

“Aku bisa menyembuhkanmu, tetapi aku tidak boleh keluar dari lingkaran ini apapun yang terjadi...”

“Kumohon, nak... Aku sudah tidak kuat lagi...” Dengan berat hati, Shinta memutuskan untuk melanggar syarat yang diberikan oleh Rama dan keluar dari lingkaran itu. Ia segera merapalkan mantra penyembuhan, kemudian cahaya kehijauan keluar dari kedua tangannya. Saat Shinta mendekatkan kedua tangannya ke tubuh kakek itu, tiba-tiba kakek itu berubah wujud menjadi Rahwana. Betapa terkejutnya Shinta hingga ia terduduk dan membatu. Cahaya kehijauan di kedua tangannya meredup.

Rahwana adalah sosok raksasa berwajah sepuluh, yang dahulu juga berjuang dalam sayembara meregangkan tali busur Dewa Siwa untuk meluluhkan hati Shinta. Namun, ia gagal mengalahkan Rama yang bahkan mampu membuat busur itu patah menjadi dua bagian. Kini, Rahwana berdiri tepat di hadapan Shinta, menatap kedua matanya dalam-dalam. Hangat.

“Adinda, maafkan aku karena membuatmu takut. Tetapi, apakah cinta dapat diukur dari kemampuan seseorang mematahkan sebuah busur milik dewa?” Shinta bergeming, ia masih diliputi ketakutan yang luar biasa setelah mendapati sosok yang berdiri di hadapannya bukanlah suami yang dicintainya, melainkan sosok raksasa dengan sepuluh wajah yang semuanya menatap dirinya dalam-dalam.

“Adinda, aku memang memiliki sepuluh wajah, tetapi aku bisa pastikan kepadamu, bahwa tidak akan ada satupun wajahku yang berpaling darimu. Sekarang, izinkan aku membawamu ke istanaku di Alengka. Aku berjanji akan menjaga kesucianmu di sana. Rusa emas yang dikejar oleh suamimu adalah jelmaan anak buahku. Jangan khawatir, suamimu baik-baik saja” Shinta yang mendengar kata-kata itu langsung menjerit sejadi-jadinya. “Adinda, maafkan aku.” Rahwana langsung menggendong Shinta yang masih menjerit-jerit kemudian segera terbang keluar dari hutan. Saat dibawa oleh Rahwana, Shinta sempat melihat Rama dan Laksmana datang dari arah yang berbeda menuju lingkaran cahaya, tetapi terlambat. Namun, setidaknya Shinta masih memiliki keyakinan yang besar pada Rama, bahwa ia akan dibebaskan dari Rahwana.

 

***

 

Sudah genap satu tahun sejak Rahwana membawa Shinta ke istananya di Alengka, tetapi Rama tidak juga kunjung datang menyelamatkan Shinta. Shinta tidak mengira hidupnya akan serba berkecukupan di sini, karena pada awalnya, ia berpikir akan ditempatkan di sebuah penjara bawah tanah yang sangat sempit dan menjijikkan. Namun, sesampainya di istana Rahwana, ia justru ditempatkan di sebuah kamar mewah yang sangat luas. Semua kebutuhan Shinta sudah tersedia di istana ini, bahkan, Rahwana berkata bahwa ia tidak akan pernah sekalipun menemui Shinta kecuali pada saat makan di ruang makan. Namun, hanya satu permintaan Shinta yang tidak pernah dipenuhi oleh Rahwana; mempertemukannya dengan Rama.

Pada saat Shinta sedang menatap rembulan, ia dikejutkan dengan kedatangan sesosok siluman kera dari jendela kamarnya. Siluman kera itu memperkenalkan diri sebagai Hanoman. Awalnya Shinta merasa ketakutan melihat Hanoman dan berniat membunuhnya dengan menghunuskan sebilah belati. Namun, Hanoman meyakinkan Shinta bahwa dirinya adalah utusan Rama dengan menunjukkan cincin pernikahan Rama. Shinta akhirnya meyakini bahwa Hanoman adalah utusan suaminya.

“Berikan cincin ini pada suamiku, dan katakan padanya bahwa aku masih menunggu dia menjemputku,” ujar Shinta sambil melepaskan cincin dari jari manisnya dan memberikannya kepada Hanoman. Hanoman dengan sigap mengamankan cincin itu, kemudian melesat pergi keluar dari jendela dan menghilang di kegelapan malam.

Raut kegembiraan tidak dapat disembunyikan dari wajah Shinta. Betapa tidak, suami yang dicintainya akan segera menjemputnya dan membebaskannya dari istana Rahwana. Tidak ada hal yang mampu menorehkan senyum di wajah Shinta kecuali Rama. Hal ini pun diketahui oleh Rahwana saat sedang makan bersama Shinta.

“Adinda, apa gerangan yang membuat awan mendung menjauh dari wajahmu?”

“Tidak ada. Aku hanya sedang senang saja,” jawab Shinta dingin.

“Terkadang, senang dan sedih datang silih berganti. Tetapi, kesedihanmu adalah belati yang menyayat hatiku, dan kesenanganmu adalah penawarnya, adinda.”

“Aku sudah selesai makan. Aku akan kembali ke kamarku.” Shinta meninggalkan Rahwana yang masih menyantap makanannya di meja makan.

Tiba-tiba, Shinta mendengar suara gaduh dari luar istana, seperti sedang terjadi peperangan. Ia lalu segera menuju jendela untuk melihat keadaan di luar, dan mendapati Hanoman sedang memimpin puluhan ribu pasukan kera yang menyerang ke dalam istana. Rahwana dengan sigap mengamankan Shinta ke dalam kamarnya. Ketika Rahwana hendak mengunci kamar Shinta, dari luar terdengar suara lantang yang sangat dinantikan oleh Shinta. Suara yang selalu menenangkan jiwa dan raganya. Suara yang selalu mampu mengusir rasa sedih dan duka yang Shinta alami..

“RAHWANA! KAU AKAN MENEMUI AJALMU HARI INI!” Rama berteriak dengan lantang, kemudian terdengar suara pertarungan yang dahsyat dari luar kamar. Suara pedang yang beradu, teriakan-teriakan yang memilukan, dan dentuman yang sangat keras bahkan sampai menggetarkan dinding kamar Shinta, membuat perasaan Shinta semakin berkecamuk. Ia menantikan dengan cemas siapa yang pada akhirnya akan membuka pintu kamarnya. Pertarungan di luar kamar berlangsung cukup lama, bahkan hingga pertempuran di halaman istana sudah usai yang menyisakan puluhan ribu mayat, baik pasukan kera maupun pasukan Rahwana.

Tidak lama kemudian, suasana berubah menjadi hening. Pertarungan di luar kamar Shinta sudah selesai, dan hanya menyisakan bau anyir yang menyeruak ke udara dari darah para prajurit yang tumpah di istana Rahwana. Jantung Shinta berdegup kencang menantikan pintu kamarnya terbuka. Ia hampir tidak sanggup bernapas. Akhirnya pintu kayu yang besar itu terbuka. Shinta langsung bergegas mendekati pintu yang sedang terbuka itu. Terlihat sosok yang sudah tidak asing baginya. Tanpa sadar, air mata mengalir deras dari kedua matanya.

“Sudah tidak ada lagi yang tersisa. Mari, hamba antarkan pulang ke Ayodhya,” ujar Hanoman dengan tubuh bersimbah darah.


Ditulis oleh

Angga Hardy

Larut

     Malam itu, aku merasakan lelah yang sangat, hingga aku terkadang melewatkan beberapa kalimat yang dilontarkan oleh temanku saat kami sedang berbincang usai menjalani serangkaian latihan teater. Sesekali aku melihat jam tangan, sudah hampir pukul setengah sebelas malam, sebaiknya aku segera pamit agar aku masih bisa menumpang kereta ke arah Jakarta. Aku lihat teman-temanku masih asyik berbincang dengan sesekali bersenda-gurau dengan teman-teman yang lain. Suasana di Kelas Terbuka FIB UI malam itu tampak riuh, padahal hanya tinggal kami berlima yang ada di sana. Tetapi tidak denganku.

    Aku memutuskan untuk pulang lebih dulu daripada teman-temanku karena jam sudah menunjukkan tepat pukul setengah sebelas malam. Aku menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batu gamping yang disusun tidak beraturan sehingga membentuk pola tertentu. Sesekali aku terantuk batu gamping yang sudah terlepas karena memang penerangan di sana tidak terlalu bagus pada malam hari. Aku terus menyusuri jalan setapak itu sampai aku tiba di jalanan yang tersusun dari batu bata. Jalanan itu cukup lebar, dan menghubungkan gedung VI FIB UI dengan gedung X dan lahan parkir FIB UI. Aku sempat menyalakan rokok di jalan itu untuk mengusir rasa kantuk yang sudah mulai hinggap, tetapi sepertinya hanya efek plasebo saja. Rasa kantuk itu tetap saja menyelimutiku meskipun aku sudah menarik dalam-dalam asap rokokku.

    Jalur batu bata itu kini sudah mulai menanjak. Aku melihat gazebo yang terbuat dari batu di sebelah kananku sudah sepi. Biasanya tempat itu selalu dipenuhi mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan mereka. Jalur yang kulalui semakin menanjak, hingga akhirnya aku tiba di depan lobby gedung X. Di sana juga sama sepinya seperti jalur yang kulalui sebelumnya, hanya saja kali ini terdengar suara jangkrik dan sesekali suara anjing yang menyalak di kejauhan entah di mana. Aku terus melanjutkan perjalananku hingga aku tiba di area parkir mobil. Terlihat di kejauhan, sebuah pos satpam yang sudah tidak ada penjaganya, hanya lampu temaram yang menerangi pos itu.

    Suasana malam itu semakin sepi dan aneh ketika angin dingin mulai berhembus dan mengenai tengkukku. Aku juga merasa waktu berjalan seakan lambat sekali. Aku kembali melihat jam tanganku, tetapi pandanganku seperti kabur. Aku rasa masih pukul setengah sebelas lewat sedikit. “Aneh”, batinku sambil terus melanjutkan perjalanan melewati pos satpam yang temaram tadi. Akhirnya aku tiba di sebuah trotoar jalan. Batu bata yang menjadi komponen utama trotoar itu terlihat sudah usang. Sudut-sudutnya sudah tidak lagi lancip. Beberapa bahkan ada yang sudah berganti warna karena dimakan usia. Tidak jauh dari situ ada jalan masuk menuju ke gedung Pusat Studi Jepang dengan portal yang sudah berkarat.

    Perasaanku semakin aneh saja setelah aku melewati pintu masuk itu, seperti ada yang mengawasiku dari kejauhan, tetapi sejauh mataku memandang, tidak ada orang lain selain aku di sini. Mungkin saja di balik salah satu pohon palem yang berjajar di sepanjang trotoar ini. Entahlah, bisa jadi ini hanya perasaanku saja akibat terlalu lelah beraktifitas seharian. Yang pasti, aku harus menyusuri trotoar ini supaya aku bisa tiba di stasiun kereta. Aku mempercepat langkah dan tarikan rokokku dengan harapan bisa segera melewati trotoar ini. Namun, semakin cepat aku melangkah, trotoar ini seakan semakin memanjang. Dari sudut mata kiriku juga bisa terlihat ada sebuah tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan yang sudah menguning dan dedaunan yang berguguran. Akhirnya setelah beberapa saat, aku tiba di ujung trotoar ini, ada sebuah tempat pemberhentian bus. Syukurlah, setidaknya penerangan menjadi semakin baik.

    Aku menarik rokokku dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat agar setidaknya perasaan aneh yang sejak tadi aku rasakan bisa ikut terbuang bersama kepulan asap tipis yang membumbung ke udara. Namun, hal itu sepertinya tidak berlaku padaku saat itu. Akhirnya aku matikan rokokku dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Agar sampai ke stasiun, aku hanya perlu menyebrangi jalan raya kemudian menyusuri jalan menembus hutan kecil.

    Ketika aku hendak menyebrang jalan, perasaan aneh itu kembali muncul, dan kali ini semakin hebat. Keringat bercucuran di kening dan lenganku, angin dingin yang berhembus membuat suasana semakin aneh. Ditambah lagi, tidak ada satupun mobil atau motor yang melintasi jalanan itu, padahal seharusnya jalanan itu ramai dilalui kendaraan.

  Setibanya aku di seberang jalan, aku kembali memperceat langkahku sebagai persiapan untuk menembus hutan kecil. Meskipun jalur yang aku lalui sudah bagus, tetapi hutan itu cukup gelap, karena penerangan hanya ada di jalan masuk dan di pertengahan jalan. Benar saja, memasuki mulut hutan itu, aku langsung disambut dengan pepohonan besar yang seakan-akan memerhatikan setiap langkahku. Pepohonan besar dengan akar-akar yang bahkan lebih besar dari tubuhku, dan lumut yang memenuhi beberapa bagian pepohonan itu. Ada juga pohon yang sudah tumbang, sepertinya sudah lama sekali, karena ada tunas-tunas baru yang tumbuh di antara akar-akar yang mencuat ke jalanan. Jalur untuk menembus hutan itu agak menanjak, sehingga aku harus mengeluarkan tenaga ekstra supaya aku bisa segera keluar dari hutan itu.

    Sekeluarnya aku dari hutan, aku berhenti sejenak di samping sebuah pos satpam yang cukup besar untuk mengatur nafas. Aku menoleh ke belakang, ke jalur hutan yang aku lalui tadi, hanya kesunyian yang terlihat. Akhirnya aku melanjutkan perjalanan menuju ke stasiun kereta. Hanya menyebrangi jalan raya satu kali lagi, dan menaiki tangga stasiun, maka aku sudah bisa lepas dari perasaan aneh yang sejak tadi menyertaiku.

    Sepertinya perjalanan pulangku malam ini terasa sangat sulit. Ketika aku melangkahkan kaki untuk menyebrang jalan, terasa seperti ada yang menahan langkahku. Terasa sangat berat seperti sedang berjalan di sebuah kubangan lumpur. Aku harus memaksakan kakiku untuk melangkah sedikit lagi agar aku bisa sampai ke stasiun kereta. Lagi-lagi, jalanan yang aku sebrangi sepi. Benar benar sepi. Ini sungguh aneh, mengingat jalan itu memang jalan utama untuk masuk ke Universitas Indonesia. Setelah perjuangan yang melelahkan, akhirnya aku tiba di sebrang jalan. Hanya perlu menaiki tangga saja untuk sampai ke stasiun kereta. Aku berusaha untuk mengabaikan semua perasaan aneh yang sejak tadi kurasakan, tetapi kali ini rasanya sungguh nyata. Ketika kakiku menginjakkan anak tangga pertama, seluruh tubuhku terasa berat sekali. Seakan-akan ada sebongkah batu besar yang diikatkan di badanku. Selangkah demi selangkah aku menaiki anak tangga itu, dan tubuhku terasa semakin berat juga, sedangkan anak tangga itu seakan tidak ada ujungnya. Namun, akhirnya aku bisa tiba di anak tangga terakhir setelah aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat di setiap anak tangga yang kunaiki.

    Tiba di anak tangga terakhir, nafasku habis, dadaku sesak, dan leherku sakit sekali. Aku berhenti sejenak untuk mengatur nafas dan mengumpulkan energi yang habis terbuang di tangga itu. Aku melihat jam tanganku, waktu menunjukkan tepat pukul setengah sebelas. Aneh sekali. Mungkin saja jam tanganku rusak. Aku mengeluarkan ponselku, dan ketika aku lihat jamnya, menunjukkan pukul 22:30. Aku semakin yakin bahwa ada sesuatu yang aneh pada malam ini. Tidak lama, ada hawa dingin yang menjalar dari kaki menuju kepalaku yang membuat pandanganku menjadi kabur. Namun, aku tersadar karena ada seseorang yang memanggil namaku dari kejauhan. Aku melihat sekeliling, tetapi tidak ada siapapun, bahkan petugas stasiun pun tidak ada. Aku terus mendengar seseorang memanggil-manggil namaku, semakin lama suaranya semakin mendekat.

    “ANGGA!” suara terkeras yang pernah aku dengar selama hidupku, sekaligus suara yang sangat menenangkan. Suara itu juga yang menarik diriku kembali ke Kelas Terbuka FIB UI, tempat awal perjalanan tadi.

    “Katanya lu mau balik? Kok, malah tidur di sini?”


Ditulis oleh:

Angga Hardy

Sabtu, 21 Januari 2017

Lilin Dalam Gelas



Dahulu, aku pernah memiliki sebuah lilin berwarna putih, pemberian seorang teman. Entah kebetulan atau apa, lilin yang ia berikan padaku merupakan sebuah lilin yang sebenarnya dari dulu aku dambakan. Aku sendiri tidak terlalu paham, kenapa aku begitu menyukai lilin. Yang pasti, lilin mampu menerangi kamarku kala gelap, itupun jika lilin itu dinyalakan. Namun, jika aku tak menyalakan lilin itu, bentuknya tetap masih terlihat indah. Lilin itu aku letakkan di dalam sebuah gelas kosong yang tanpa sengaja aku temukan di belakang lemari. Memang, gelas itu sudah agak kotor karena debu, tapi setelah aku cuci, gelas itu sungguh bersih. Aku sengaja meletakkan lilin dalam gelas itu di sudut kamarku yang paling gelap, kemudian aku nyalakan lilin itu.

Aku tak bisa mengingat tepatnya kapan, yang pasti, sampai hari ini lilin itu masih menyala sejak pertama kali temanku memberikannya. Satu hal yang paling aku suka dari lilin dalam gelas itu; ketika lilin itu meleleh, ia selalu mengisi kekosongan dalam gelas. Aku senang melihat bagaimana lelehan lilin itu berusaha mengisi tiap-tiap celah dalam gelas, sehingga gelas itu selalu terlihat penuh, dan pastinya sudut paling gelap di kamarku memiliki cahayanya sendiri.

Aku rasa sudah hitungan tahun, lilin dalam gelas itu terus menyala di sudut kamarku; menerangi celah-celah yang dulu aku tak bisa mengira apa isinya, serta membawaku ke dalam sebuah petualangan baru. Sebuah petualangan yang bahkan akupun tak mengira akan sangat menyenangkan. Petualangan yang mengharuskan aku tak menjadi siapa-siapa. Menyenangkan, kan?

Dalam petualangan itu, aku menjadi Aku, sosok yang biasa saja tanpa kekuatan atau keahlian tertentu. Aku bukan seorang ahli pedang, penyihir, pemanah, apalagi seorang penyembuh; ia hanya seorang manusia pada umumnya. Di tengah perjalanan, Aku bertemu dengan beberapa orang yang kemudian menyertai Aku dalam perjalanannya. Tujuan dari perjalanan Aku? Entahlah, aku sendiri kurang begitu paham. Orang-orang yang ditemui Aku dalam perjalanan, di antaranya adalah seorang ahli pedang, penyihir, pemanah, juga seorang penyembuh. Aku terlihat begitu senang karena ia bisa bertemu dengan orang-orang yang tanpa segan menceritakan pengalaman mereka dalam petualangan mereka sendiri.

Namun, kini cahaya lilin dalam gelas di sudut kamarku itu mulai redup. Lelehan lilin di dalam gelas sudah penuh, hingga seperti membentuk lilin baru, hanya saja cahaya dan bentuknya sudah tidak seindah yang aku ingat. Mungkin karena aku jarang memerhatikan lilin itu, atau mungkin karena aku kurang memelihara cahayanya, atau mungkin karena kecerobohanku yang membiarkan lilin itu berkobar hebat akibat aku yang terlalu sering melemparkan kertas-kertas ke atas apinya. Entahlah, aku sendiri tak mampu menerka mana yang sebenarnya menjadi penyebab lilin dalam gelas di sudut kamarku itu meredup. Aku bahkan tak tahu sampai kapan cahaya itu akan terus bertahan. Namun, jika suatu saat cahaya itu padam, aku akan berhadapan dengan dilema.

Apakah aku hanya perlu menyalakan kembali lilin itu, atau cukup mencari lilin baru?

*Gambar dari Google Image

Written by:

Selasa, 29 September 2015

Ruang Gelap

Ada sebuah ruangan di sudut yang gelap itu, dengan pintu besar yang terbuat dari kayu oak, yang banyak terdapat ukiran kata-kata berwarna emas, dan gagangnya yang terbuat dari tembaga. Dinding ruangan itu hanya memiliki satu jendela yang menghadap ke arah matahari terbit, dan sebuah cermin kecil di sisi yang lain. Namun, entah mengapa hanya sedikit berkas cahaya yang bisa masuk ke dalam ruangan itu, sehingga aku tak terlalu yakin apakah warna karpetnya merah atau bukan. Bisa aku pastikan kalau dinding ruangan itu terbuat dari kayu.

Tidak ada penjaga di dalam ruangan itu, padahal di sana ada kotak kaca yang besar yang berisi ratusan bahkan mungkin ribuan kupu-kupu. Mereka tampak terbang dengan gembira, jadi kurasa aku tak perlu terlalu khawatir. Hal yang membuatku penasaran adalah sebuah kotak musik di sebelahnya. Kotak musik itu selalu memainkan lagu yang sama berulang-ulang. Lagu yang cukup menenangkan hati, tetapi entah mengapa lama-lama jadi menyeramkan. Seingatku, aku ada di ruangan ini sudah cukup lama dan musik itu belum pernah berhenti, seperti ada seseorang yang terus memutarnya.

Kadang aku merasa tak sendiri di dalam ruangan itu. Aku tak bisa memastikannya, karena sudut-sudut ruangan itu terlalu gelap. Aku bahkan tak tahu seberapa besar ruangan itu sebenarnya. Yang pasti, di saat tertentu terdengar alunan musik yang sangat merdu dari salah satu sudutnya. Bukan, bukan berasal dari kotak musik itu. Aku tahu itu! Aku tak ingat kapan dan di mana aku pernah mendengarnya, tetapi senyumku mendadak merekah saat alunan musik itu terdengar.

Oh ya, aku baru ingat. Aku menemukan secarik kertas di dekat kotak kaca itu. Tertulis sebuah puisi dengan huruf sambung yang tampaknya sengaja dibuat seperti itu agar sulit dipahami. Puisinya seperti ini:

"Ruang hitam yang tak pernah ingat
Kapan terakhir ia bertemu cahaya
Hanya rasa yang ia punya
Untuk melepas belenggu dari kata.

Untaian lavender berbalut emas
Seakan menahan waktu untuk bekerja
Hingga nada tak jadi melodi
Kata tak lagi jadi diksi.

Binar bintang di permadani hitam
Masih terasa bias oleh aurora
Bahkan kuda putih yang gagah
Harus belajar cara untuk pulang.

Ruang hitam yang jadi pemisah
Antara malam dengan malam
Tak pernah ingatlah ia
Kapan terakhir bertemu cahaya.

Mentari seakan sedang bermain
Dengan anak-anak awan di kaki langit
Lupa kapan ia pulang ke cakrawala
Untuk kembali menerangi malam.

Jika dua malam masih dipisahkan gelap, dengan cahaya apa lagi aku bisa melihat senyum itu tersimpul di bibirmu?"

Kemudian aku tersadar dari lamunanku. Kopiku sudah dingin.

Written by:
Angga Hardy

Sabtu, 30 Mei 2015

Cahaya Malam

Senja sudah meninggalkan cakrawala, juga diriku yang terduduk di bawah lampu petromak yang temaram. Burung-burung kecil tampak menjauh lalu hilang ditelan malam, mungkin pulang ke sarangnya. Desir angin di antara dedaunan semakin jelas terdengar seiring berkurangnya frekwensi manusia yang saling melempar opini.

Saung bambu inilah yang kerap menaungi aku dari teriknya surya dan jahatnya angin malam. Memang tidak semewah rumah kalian, hanya selembar tikar usang yang membatasi aku dengan bumi dan atap jerami yang memisahkan aku dengan langit malam. Tidak lupa sebuah lampu petromak yang tergantung di salah satu sudutnya. Tadinya besi-besi lampu petromak itu berwarna biru terang, tetapi aku sudah lupa kapan terakhir aku melihatnya seperti itu. Karat dan jelaga tampaknya sudah menguasai sebagian besar lampu petromak itu.

Temaram memang jika dibandingkan dengan lampu listrik yang mahal, tetapi aku dulu pernah punya sesuatu yang jauh lebih baik. Di kursi panjang ini biasanya ada Watno si tukang asah pisau, Rahmat si penjual sayur, Ijah si pemetik daun teh, Wati si penjaja gethuk, dan aku. Kami selalu berkumpul di saung ini kala matahari sedang tegak lurus, sekedar melepas lelah sambil menyantap gethuk yang kami beli dari si Wati dan menyesap es teh yang suka dibawakan oleh Mak Onah. Banyak yang kami bicarakan di saung itu, mulai dari hasil jualan yang tak laku, musim hujan yang belum mulai, sampai soal Larasati si kembang desa yang tak habis menjadi bahan omongan.

Aku ingat waktu itu aku yang pertama kali tiba di saung. Aneh, biasanya aku yang terakhir. Tidak lama, Watno, Rahmat, Ijah, dan Wati tampak berjalan menuju desa. Ijah menangis sesenggukan, Watno terus berusaha menenangkannya. Saat melewati depan saung, berulang kali aku memanggil mereka tetapi mereka tetap acuh. Kemudian aku melihat cahaya yang sangat menyilaukan dan tubuhku serasa tertarik, lalu aku tak ingat apa-apa. Yang aku ingat selanjutnya adalah aku memulai cerita ini di bawah lampu petromak yang temaram ini sendirian.

Written By:
Angga Hardy

Selasa, 19 Februari 2013

Dongeng Kurinci


Pada jaman dahulu, tepatnya beberapa dekade sebelum restorasi Meiji, ada sebuah perlombaan balap lari yang pesertanya terdiri dari kelinci dan kura-kura. Perhelatan itu sejatinya digelar bersamaan dengan pembukaan Piala Dunia alias World Cup, tapi karena peminat dari kalangan manusia cuma sedikit, akhirnya perwakilan dari kelinci jantan dan kura-kura betina mengadakan pertemuan di sebelah barat Linggarjati.


Hasil dari pertemuan itu memutuskan agar perhelatan itu diadakan tiap tahun, tepat sehari sebelum harga nasi goreng keliling naik seribu rupiah. Para kelinci dan kura-kura sontak sorak-sorai kegirangan. Bahkan ada yang berinisiatif membeli tuak non-alkohol untuk dikonsumsi bersama saat itu. Tak ayal, kenduri akbar diadakan seminggu penuh tanpa iringan musik dangdut gerobak. Karena tidak ada yang mengkonsumsi alkohol apalagi menggunakan narkotika, kenduri akbar itu berjalan lancar tapi membosankan hingga tujuh hari, meskipun dari jauh terlihat seperti sekumpulan binatang kecil yang morat-marit.

Sekembalinya perwakilan kelinci dan kura-kura dari pertemuan, ternyata mereka tidak langsung menemui anggota kelompoknya yang haus akan informasi dan keputusan. Mereka malah wara-wiri dulu ke Fresh Market untuk beli kangkung dan wortel beberapa ton.

“Kenapa kita beli banyak?” tanya ketua kelinci.
“Kamu gak tau? Trans Yogi itu suka macet, aku gak mau mondar-mandir dalam kemacetan ini!” kata ketua kura-kura bersungut-sungut, “mending aku beli sekian banyak biar disangka oleh-oleh.”
“Ah, kamu ada-ada saja. Yaudah terserah kamu.” sungut ketua kelinci ngampleh saking pasrahnya atas alasan ketua kura-kura.

Sekembalinya ketua kelinci dan kura-kura, mereka disambut meriah dengan petasan jangwe dan barong-sai oleh anggota kelompoknya masing-masing. Maklum, mereka kembali bertepatan dengan perayaan Imlek. Setelah sambutan meriah selama sekitar setengah bulan, dua kelompok itu memisahkan diri ke kantor pusatnya masing-masing dengan berbekal kangkung, wortel, dan berita perhelatan lomba lari.

***

“Kita gak bakalan menang.”
“Dari pertama lomba, kita udah ketinggalan jauh.”
“Kelinci itu cepet banget!”
“Dia pasti pake cara curang!”
“Mereka nyogok panitia!”

Ruang rapat kura-kura dipenuhi dengan obrolan semacam itu. Bahkan lebih ribut daripada ibu-ibu yang nawar harga di pasar ikan Muara Angke. Ketua kura-kura yang sedari tadi main Angry Birds akhirnya jengah. Ia pun angkat suara. Namun, karena suaranya kalah bising ketimbang selusin kura-kura itu, akhirnya ia sedih lantas termenung. Ia beranjak ke warnet terdekat untuk sekedar buka Google.

Kocap kacarita, ketua kura-kura menemukan jalan keluar untuk mengatasi frustasinya. Ia mau ikutan bela diri asal Jepang yang bernama Aikido. Menurut artikel yang ia baca, Aikido itu sesuai dengan keribadian dan fisiknya. Setelah bulat tekad, ia memutuskan untuk daftar Aikido. Masalahnya adalah, ketua kura-kura tidak tahu harus daftar ke mana.

***

Ketua kelinci selalu menanamkan pada diri anggotanya agar jangan pernah berusaha untuk jadi lebih baik dari orang lain, tapi lakukanlah yang terbaik untuk diri sendiri. Dengan begitu ia boleh bangga karena tak satu pun anggotanya yang kalah dalam perlombaan balap lari melawan kura-kura.

Selain bijaksana, ketua kelinci juga ahli bela diri. Banyak ilmu bela diri yang sudah ia kuasai, mulai dari Wing Chun hingga Silat Cikalong. Hal itu dilakukannya untuk bangkit dari keterpurukan masa lalunya di mana ia menjadi kelinci tukang sulap yang keluar dari topi. Tapi semenjak tukang sulap itu secara misterius menghilang, ketua kelinci sedih berkepanjangan selama sekitar tiga tahun.

Meskipun berbagai aliran bela diri sudah ia kuasai, tapi tak satu pun yang bisa membawa pergi perasaan kangen si ketua kelinci terhadap tukang sulapnya. Ia malahan jadi jago bela diri dan memenangkan kejuaraan internasional yang biasanya digelar setelah pengumuman pemenang Indonesia Mencari Bakat. Jengah dengan perjalanan yang belum terlihat ujungnya seacan-acan, ketua kelinci seperti mendapat wangsit. Ia akhirnya daftar Aikido di dekat Fresh Market.

***

Kegundahan ketua kura-kura tercium oleh anggotanya yang lagi sibuk bergosip kanan-kiri.

“Ada apa ketua?” tanyanya penasaran tingkat Mahkamah Agung.
“Ah, aku gak papa.” tukas ketua kura-kura limbung.
“Gak perlu kamu jelasin, aku juga udah ngerti kok masalah kamu.” Kata kura-kura itu dengan sotoy.
“Tau apa kamu tentang aku? Kamu aja gak pernah dengerin aku kala aku mau ngasih pengumuman”. Ketua kura-kura mulai frustasi, pelupuk matanya kini berlinang air mata sebesar biji jagung.
“Ketua gak perlu bersedih. Aku toh jadi anggotamu yang paling setia, tho?” katanya narsis. “Aku punya kenalan, dia itu Aikidoka lho!”
“Hah! Benarkah? Aku ingin belajar Aikido sejak lama. Mengapa kamu baru bilang sekarang?” ketua kura-kura loncat kegirangan, nyaris melakukan corkscrew backflip. Tapi ia hanya terlihat seperti kayang.
“Tapi dia kelinci. Aku gak mau ketua ku dekat dengan kelinci!”

Karena ketua kura-kura sudah terlalu jengah dan kecewa dengan anggotanya, maka perkataan kura-kura itu hanya di-iya-kan saja.

***

Beberapa saat berlalu, akhirnya ketua kura-kura dan ketua kelinci bertemu. Karena mereka sudah saling kenal dan pernah makan Ramen bareng, obrolan yang terjadi tidak sedingin saat pertemuan di dekat Linggarjati tempo hari. Kali ini mereka serius membicarakan Aikido.

Akhirnya ketua kura-kura sepakat untuk daftar Aikido yang ternyata lokasinya di Kota Wisata sektor Kyoto. Tak diduga, ternyata ketua kelinci sedang mempersiapkan dirinya untuk ikut ujian Shodan alias ujian sabuk hitam. Karena kegigihan dan ketulusan hatinya, meskipun dengan cidera bahu, ketua kelinci berhasil melalui ujian itu dengan sempurna.

Ketua kura-kura merasakan kehangatan saat dekat dengan ketua kelinci. Perasaan ini jarang didapat saat ia bersama anggota kura-kura yang lain. Perasaan itu perlahan semakin hangat setelah ia memutuskan untuk meninggalkan anggotanya demi menjadi ketua kura-kura yang lebih baik.

Kocap kacarita, ketua kura-kura dan ketua kelinci membentuk sebuah mahligai cinta. Mereka memiliki keturunan yang lucu dan menggemaskan. Ada yang berbentuk kura-kura mungil dengan kuping panjang dan ekor bulat berbulu seperti bunga Dandelion, ada juga yang berbentuk seperti kelinci dengan tempurung berbulu nan empuk.

Written By:

Selasa, 24 Juli 2012

Realita Ilusi

Aku, seperti biasa duduk di halaman rumah menunggu matahari meredup. Nyiur-nyiur itu berdesir manis karena dibelai angin laut, dan semakin manis ketika sesekali terdengar deburan ombak yang seakan menyeret penatku jauh ke tengah lautan.


Sore ini nampaknya matahari pergi lebih cepat. Dari tadi siang memang sudah mendung, tapi entah kenapa aku masih ngotot menanti keajaiban. Kata orang, kalau aku punya kepercayaan yang positif, keajaiban akan datang. Aku hanya tersenyum simpul, “Pfftt...”

Aku dikejutkan dengan sesosok kakek yang duduk -semacam jongkok lebih tepatnya- di sebelahku. Jelas aku heran dari mana datangnya kakek ini, sedangkan dari tadi aku tidak kemana-mana, dan aku sedang berada di halaman rumahku. Kakek ini mengenakan kaos berwarna kuning yang sudah lusuh. Di punggungnya tergantung caping yang terlihat masih bagus walau sepertinya sudah bertahun-tahun menahan terik dan hujan. Ah, aku tidak mau ambil pusing.

Sesaat kemudian aku mendapati diriku sedang berjalan di pantai yang pasirnya putih, seakan ada orang yang dengan tekun menaburkan serpihan gading di tempat seluas ini. Aku juga menyadari kalau air laut di sini tampak jauh lebih jernih, sampai-sampai aku bingung mencari di mana cakrawala berada. Tidak biasanya keadaan pantai di sini sebagus sore ini. Aku terus saja melangkahkan kaki berharap menemukan ujung pantai. Kemudian kakek ini muncul lagi. Masih mengenakan kaos kuning yang lusuh dan capingnya masih tergantung di punggung. Tapi kali ini dia berdiri, dengan kaki bangau. Dia menatap kosong ke tengah laut dengan satu kakinya terangkat. Aku muak dengan penasaranku, akhirnya aku dekati kakek ini. Namun, dia sadar akan kehadiranku dan dengan gerakan yang sangat gesit, ia berlari menerobos ombak lalu menyelam seperti lumba-lumba yang kalap melihat gerombolan sardin.

“Apa-apaan ini!” batinku.

Kemudian aku mendapati diriku duduk di atas perahu kecil yang pasti akan terbalik jika dinaiki oleh dua orang. Kali ini air laut tidak sejernih tadi. Gelombangnya besar-besar, seperti ada ikan paus yang iseng berguling-guling di belakangnya. Aku mulai pusing, mual, dan telapak tanganku memucat. Aku terombang-ambing cukup lama, mungkin setengah jam, atau satu jam, aku juga tidak tahu. Aku mulai mengayuh perahuku dengan tangan yang kini sudah mulai mati rasa. Tiba-tiba aku seperti memukul sesuatu di dalam air.

“Ini pasti hiu! Tamat sudah!” kataku dalam hati, panik.

Ketika aku periksa, ternyata kakek ini yang kupukul. Sepertinya kena kepalanya, soalnya tadi terasa seperti rambut-rambut kecil yang baru dicukur. Lagi-lagi ada yang aneh dengan kakek ini. Kali ini dia memiliki tempurung sebesar gomera, berwarna kuning pucat, dan ada caping tepat di puncaknya. Sepertinya dia marah kepalanya aku pukul tadi. Raut mukanya tidak menyenangkan, ditambah keriput di sekitar mata, kening, dan sekitar hidungnya semakin menjelaskan kalau ia ingin membalasku.

Benar saja, ia menabrakkan tempurungnya ke perahuku. Aku terhempas, tergulung ombak, tenggelam di kegelapan laut, lalu semua menjadi tenang. Tubuhku menjadi ringan sekali, aku sepertinya bisa mengepakkan tanganku dan terbang menembus atmosfir. Lalu dadaku sesak. Jantungku enggan berdegup terlalu sering. Kemudian sesekali berdegup.

Sekali lagi berdegup.

Sekali lagi.

Hening.

Gelap...

Pasi...

Hampa...

Lalu aku terbangun oleh suara pemilik kos yang menggedor pintuku, sepertinya berniat menagih pembayaran bulan ini yang aku tunggak. Aku menjawab seadanya saja. Aku melihat sekeliling kamar kosku, dan aku menyadari masih ada sisa jamur seukuran kelingking bocah di dalam plastik kecil.


Written By:

Angga Hardy