Sebutir debu yang nyaris larut dalam hujan.
Yang lupa kalau mudah diterbangkan.
Terduduk diam di sudut malam.
Seuntai senyum tak lupa ia simpulkan.
Berbagi kisah ia dengan semesta.
Yang tak kunjung sampai sebatas mata.
Jemari menyeka angin yang menelisik.
Urung jua ia berbisik.
Mengais kawan di antara lantai kaca.
Yang tampak sebagai canda.
Yang tertanam di balik lubuk.
Yang melambung dibawah surya.
Kepak sayap tak lagi dirasa.
Cengkram cakar tak lagi mengepal.
Sepasang visi sudah lagi tumpul.
sebuah rasa tak lagi meraba.
Matahari di sana, tampak temaram.
Tak bisa lagi berbagi hangat.
Lebam di mata yang tak pernah nampak.
Sengguk nafas tersamar waktu.
Bisik kata tertelan rasa.
Semua jelas dalam mimpinya.
Tak gentar ia menutup mata.
Meski cahaya memaksa keluar.
Tanpa titik ia melaju.
Meski hanya mejadi bayang semu.
Mulai ia teriak pada semesta,
yang hanya tertawa menunggu pasti.
Aku.
Seberkas egosentris dibalut gulali sosial.
Yang merambat menggenggam pekat.
Yang enggan menuai jelaga.
Seperti arsiran pensil,
yang kuusap lembut pada citramu.
Meski hanya dalam kanvas,
Aku bisa membelai wajahmu.
Sepanjang waktu.
Tak patut aku berpaling,
saat kau menyinari gelapku.
Dan tak juga aku terpukau,
Saat kau mengepak setinggi angkasa.
Hanya detik dan air hujan,
yang mampu menyatukan.
Salamku untuknya di lepas samudera.
Written by:
Angga Hardy