Senja sudah meninggalkan cakrawala, juga diriku yang terduduk di bawah lampu petromak yang temaram. Burung-burung kecil tampak menjauh lalu hilang ditelan malam, mungkin pulang ke sarangnya. Desir angin di antara dedaunan semakin jelas terdengar seiring berkurangnya frekwensi manusia yang saling melempar opini.
Saung bambu inilah yang kerap menaungi aku dari teriknya surya dan jahatnya angin malam. Memang tidak semewah rumah kalian, hanya selembar tikar usang yang membatasi aku dengan bumi dan atap jerami yang memisahkan aku dengan langit malam. Tidak lupa sebuah lampu petromak yang tergantung di salah satu sudutnya. Tadinya besi-besi lampu petromak itu berwarna biru terang, tetapi aku sudah lupa kapan terakhir aku melihatnya seperti itu. Karat dan jelaga tampaknya sudah menguasai sebagian besar lampu petromak itu.
Temaram memang jika dibandingkan dengan lampu listrik yang mahal, tetapi aku dulu pernah punya sesuatu yang jauh lebih baik. Di kursi panjang ini biasanya ada Watno si tukang asah pisau, Rahmat si penjual sayur, Ijah si pemetik daun teh, Wati si penjaja gethuk, dan aku. Kami selalu berkumpul di saung ini kala matahari sedang tegak lurus, sekedar melepas lelah sambil menyantap gethuk yang kami beli dari si Wati dan menyesap es teh yang suka dibawakan oleh Mak Onah. Banyak yang kami bicarakan di saung itu, mulai dari hasil jualan yang tak laku, musim hujan yang belum mulai, sampai soal Larasati si kembang desa yang tak habis menjadi bahan omongan.
Aku ingat waktu itu aku yang pertama kali tiba di saung. Aneh, biasanya aku yang terakhir. Tidak lama, Watno, Rahmat, Ijah, dan Wati tampak berjalan menuju desa. Ijah menangis sesenggukan, Watno terus berusaha menenangkannya. Saat melewati depan saung, berulang kali aku memanggil mereka tetapi mereka tetap acuh. Kemudian aku melihat cahaya yang sangat menyilaukan dan tubuhku serasa tertarik, lalu aku tak ingat apa-apa. Yang aku ingat selanjutnya adalah aku memulai cerita ini di bawah lampu petromak yang temaram ini sendirian.
Written By:
Angga Hardy