Head

Selasa, 19 Februari 2013

Dongeng Kurinci


Pada jaman dahulu, tepatnya beberapa dekade sebelum restorasi Meiji, ada sebuah perlombaan balap lari yang pesertanya terdiri dari kelinci dan kura-kura. Perhelatan itu sejatinya digelar bersamaan dengan pembukaan Piala Dunia alias World Cup, tapi karena peminat dari kalangan manusia cuma sedikit, akhirnya perwakilan dari kelinci jantan dan kura-kura betina mengadakan pertemuan di sebelah barat Linggarjati.


Hasil dari pertemuan itu memutuskan agar perhelatan itu diadakan tiap tahun, tepat sehari sebelum harga nasi goreng keliling naik seribu rupiah. Para kelinci dan kura-kura sontak sorak-sorai kegirangan. Bahkan ada yang berinisiatif membeli tuak non-alkohol untuk dikonsumsi bersama saat itu. Tak ayal, kenduri akbar diadakan seminggu penuh tanpa iringan musik dangdut gerobak. Karena tidak ada yang mengkonsumsi alkohol apalagi menggunakan narkotika, kenduri akbar itu berjalan lancar tapi membosankan hingga tujuh hari, meskipun dari jauh terlihat seperti sekumpulan binatang kecil yang morat-marit.

Sekembalinya perwakilan kelinci dan kura-kura dari pertemuan, ternyata mereka tidak langsung menemui anggota kelompoknya yang haus akan informasi dan keputusan. Mereka malah wara-wiri dulu ke Fresh Market untuk beli kangkung dan wortel beberapa ton.

“Kenapa kita beli banyak?” tanya ketua kelinci.
“Kamu gak tau? Trans Yogi itu suka macet, aku gak mau mondar-mandir dalam kemacetan ini!” kata ketua kura-kura bersungut-sungut, “mending aku beli sekian banyak biar disangka oleh-oleh.”
“Ah, kamu ada-ada saja. Yaudah terserah kamu.” sungut ketua kelinci ngampleh saking pasrahnya atas alasan ketua kura-kura.

Sekembalinya ketua kelinci dan kura-kura, mereka disambut meriah dengan petasan jangwe dan barong-sai oleh anggota kelompoknya masing-masing. Maklum, mereka kembali bertepatan dengan perayaan Imlek. Setelah sambutan meriah selama sekitar setengah bulan, dua kelompok itu memisahkan diri ke kantor pusatnya masing-masing dengan berbekal kangkung, wortel, dan berita perhelatan lomba lari.

***

“Kita gak bakalan menang.”
“Dari pertama lomba, kita udah ketinggalan jauh.”
“Kelinci itu cepet banget!”
“Dia pasti pake cara curang!”
“Mereka nyogok panitia!”

Ruang rapat kura-kura dipenuhi dengan obrolan semacam itu. Bahkan lebih ribut daripada ibu-ibu yang nawar harga di pasar ikan Muara Angke. Ketua kura-kura yang sedari tadi main Angry Birds akhirnya jengah. Ia pun angkat suara. Namun, karena suaranya kalah bising ketimbang selusin kura-kura itu, akhirnya ia sedih lantas termenung. Ia beranjak ke warnet terdekat untuk sekedar buka Google.

Kocap kacarita, ketua kura-kura menemukan jalan keluar untuk mengatasi frustasinya. Ia mau ikutan bela diri asal Jepang yang bernama Aikido. Menurut artikel yang ia baca, Aikido itu sesuai dengan keribadian dan fisiknya. Setelah bulat tekad, ia memutuskan untuk daftar Aikido. Masalahnya adalah, ketua kura-kura tidak tahu harus daftar ke mana.

***

Ketua kelinci selalu menanamkan pada diri anggotanya agar jangan pernah berusaha untuk jadi lebih baik dari orang lain, tapi lakukanlah yang terbaik untuk diri sendiri. Dengan begitu ia boleh bangga karena tak satu pun anggotanya yang kalah dalam perlombaan balap lari melawan kura-kura.

Selain bijaksana, ketua kelinci juga ahli bela diri. Banyak ilmu bela diri yang sudah ia kuasai, mulai dari Wing Chun hingga Silat Cikalong. Hal itu dilakukannya untuk bangkit dari keterpurukan masa lalunya di mana ia menjadi kelinci tukang sulap yang keluar dari topi. Tapi semenjak tukang sulap itu secara misterius menghilang, ketua kelinci sedih berkepanjangan selama sekitar tiga tahun.

Meskipun berbagai aliran bela diri sudah ia kuasai, tapi tak satu pun yang bisa membawa pergi perasaan kangen si ketua kelinci terhadap tukang sulapnya. Ia malahan jadi jago bela diri dan memenangkan kejuaraan internasional yang biasanya digelar setelah pengumuman pemenang Indonesia Mencari Bakat. Jengah dengan perjalanan yang belum terlihat ujungnya seacan-acan, ketua kelinci seperti mendapat wangsit. Ia akhirnya daftar Aikido di dekat Fresh Market.

***

Kegundahan ketua kura-kura tercium oleh anggotanya yang lagi sibuk bergosip kanan-kiri.

“Ada apa ketua?” tanyanya penasaran tingkat Mahkamah Agung.
“Ah, aku gak papa.” tukas ketua kura-kura limbung.
“Gak perlu kamu jelasin, aku juga udah ngerti kok masalah kamu.” Kata kura-kura itu dengan sotoy.
“Tau apa kamu tentang aku? Kamu aja gak pernah dengerin aku kala aku mau ngasih pengumuman”. Ketua kura-kura mulai frustasi, pelupuk matanya kini berlinang air mata sebesar biji jagung.
“Ketua gak perlu bersedih. Aku toh jadi anggotamu yang paling setia, tho?” katanya narsis. “Aku punya kenalan, dia itu Aikidoka lho!”
“Hah! Benarkah? Aku ingin belajar Aikido sejak lama. Mengapa kamu baru bilang sekarang?” ketua kura-kura loncat kegirangan, nyaris melakukan corkscrew backflip. Tapi ia hanya terlihat seperti kayang.
“Tapi dia kelinci. Aku gak mau ketua ku dekat dengan kelinci!”

Karena ketua kura-kura sudah terlalu jengah dan kecewa dengan anggotanya, maka perkataan kura-kura itu hanya di-iya-kan saja.

***

Beberapa saat berlalu, akhirnya ketua kura-kura dan ketua kelinci bertemu. Karena mereka sudah saling kenal dan pernah makan Ramen bareng, obrolan yang terjadi tidak sedingin saat pertemuan di dekat Linggarjati tempo hari. Kali ini mereka serius membicarakan Aikido.

Akhirnya ketua kura-kura sepakat untuk daftar Aikido yang ternyata lokasinya di Kota Wisata sektor Kyoto. Tak diduga, ternyata ketua kelinci sedang mempersiapkan dirinya untuk ikut ujian Shodan alias ujian sabuk hitam. Karena kegigihan dan ketulusan hatinya, meskipun dengan cidera bahu, ketua kelinci berhasil melalui ujian itu dengan sempurna.

Ketua kura-kura merasakan kehangatan saat dekat dengan ketua kelinci. Perasaan ini jarang didapat saat ia bersama anggota kura-kura yang lain. Perasaan itu perlahan semakin hangat setelah ia memutuskan untuk meninggalkan anggotanya demi menjadi ketua kura-kura yang lebih baik.

Kocap kacarita, ketua kura-kura dan ketua kelinci membentuk sebuah mahligai cinta. Mereka memiliki keturunan yang lucu dan menggemaskan. Ada yang berbentuk kura-kura mungil dengan kuping panjang dan ekor bulat berbulu seperti bunga Dandelion, ada juga yang berbentuk seperti kelinci dengan tempurung berbulu nan empuk.

Written By: