Pada
jaman dahulu, tepatnya beberapa dekade sebelum restorasi Meiji, ada sebuah
perlombaan balap lari yang pesertanya terdiri dari kelinci dan kura-kura.
Perhelatan itu sejatinya digelar bersamaan dengan pembukaan Piala Dunia alias
World Cup, tapi karena peminat dari kalangan manusia cuma sedikit, akhirnya
perwakilan dari kelinci jantan dan kura-kura betina mengadakan pertemuan di
sebelah barat Linggarjati.Hasil dari pertemuan itu memutuskan agar perhelatan itu diadakan tiap tahun, tepat sehari sebelum harga nasi goreng keliling naik seribu rupiah. Para kelinci dan kura-kura sontak sorak-sorai kegirangan. Bahkan ada yang berinisiatif membeli tuak non-alkohol untuk dikonsumsi bersama saat itu. Tak ayal, kenduri akbar diadakan seminggu penuh tanpa iringan musik dangdut gerobak. Karena tidak ada yang mengkonsumsi alkohol apalagi menggunakan narkotika, kenduri akbar itu berjalan lancar tapi membosankan hingga tujuh hari, meskipun dari jauh terlihat seperti sekumpulan binatang kecil yang morat-marit.
Sekembalinya perwakilan kelinci dan kura-kura dari pertemuan, ternyata mereka tidak langsung menemui anggota kelompoknya yang haus akan informasi dan keputusan. Mereka malah wara-wiri dulu ke Fresh Market untuk beli kangkung dan wortel beberapa ton.
“Kenapa kita beli
banyak?” tanya ketua kelinci.
“Kamu gak tau? Trans
Yogi itu suka macet, aku gak mau mondar-mandir dalam kemacetan ini!” kata ketua
kura-kura bersungut-sungut, “mending aku beli sekian banyak biar disangka
oleh-oleh.”
“Ah, kamu ada-ada
saja. Yaudah terserah kamu.” sungut ketua kelinci ngampleh saking pasrahnya atas alasan ketua kura-kura.
Sekembalinya ketua
kelinci dan kura-kura, mereka disambut meriah dengan petasan jangwe dan
barong-sai oleh anggota kelompoknya masing-masing. Maklum, mereka kembali
bertepatan dengan perayaan Imlek. Setelah sambutan meriah selama sekitar
setengah bulan, dua kelompok itu memisahkan diri ke kantor pusatnya
masing-masing dengan berbekal kangkung, wortel, dan berita perhelatan lomba
lari.
***
“Kita gak bakalan
menang.”
“Dari pertama lomba,
kita udah ketinggalan jauh.”
“Kelinci itu cepet
banget!”
“Dia pasti pake cara
curang!”
“Mereka nyogok
panitia!”
Ruang rapat kura-kura
dipenuhi dengan obrolan semacam itu. Bahkan lebih ribut daripada ibu-ibu yang
nawar harga di pasar ikan Muara Angke. Ketua kura-kura yang sedari tadi main
Angry Birds akhirnya jengah. Ia pun angkat suara. Namun, karena suaranya kalah
bising ketimbang selusin kura-kura itu, akhirnya ia sedih lantas termenung. Ia
beranjak ke warnet terdekat untuk sekedar buka Google.
Kocap kacarita, ketua
kura-kura menemukan jalan keluar untuk mengatasi frustasinya. Ia mau ikutan
bela diri asal Jepang yang bernama Aikido. Menurut artikel yang ia baca, Aikido
itu sesuai dengan keribadian dan fisiknya. Setelah bulat tekad, ia memutuskan
untuk daftar Aikido. Masalahnya adalah, ketua kura-kura tidak tahu harus daftar
ke mana.
***
Ketua kelinci selalu
menanamkan pada diri anggotanya agar jangan pernah berusaha untuk jadi lebih
baik dari orang lain, tapi lakukanlah yang terbaik untuk diri sendiri. Dengan
begitu ia boleh bangga karena tak satu pun anggotanya yang kalah dalam
perlombaan balap lari melawan kura-kura.
Selain bijaksana, ketua
kelinci juga ahli bela diri. Banyak ilmu bela diri yang sudah ia kuasai, mulai
dari Wing Chun hingga Silat Cikalong. Hal itu dilakukannya untuk bangkit dari
keterpurukan masa lalunya di mana ia menjadi kelinci tukang sulap yang keluar
dari topi. Tapi semenjak tukang sulap itu secara misterius menghilang, ketua
kelinci sedih berkepanjangan selama sekitar tiga tahun.
Meskipun berbagai
aliran bela diri sudah ia kuasai, tapi tak satu pun yang bisa membawa pergi
perasaan kangen si ketua kelinci terhadap tukang sulapnya. Ia malahan jadi jago
bela diri dan memenangkan kejuaraan internasional yang biasanya digelar setelah
pengumuman pemenang Indonesia Mencari Bakat. Jengah dengan perjalanan yang
belum terlihat ujungnya seacan-acan, ketua
kelinci seperti mendapat wangsit. Ia akhirnya daftar Aikido di dekat Fresh
Market.
***
Kegundahan ketua
kura-kura tercium oleh anggotanya yang lagi sibuk bergosip kanan-kiri.
“Ada apa ketua?”
tanyanya penasaran tingkat Mahkamah Agung.
“Ah, aku gak papa.”
tukas ketua kura-kura limbung.
“Gak perlu kamu
jelasin, aku juga udah ngerti kok masalah kamu.” Kata kura-kura itu dengan
sotoy.
“Tau apa kamu tentang
aku? Kamu aja gak pernah dengerin aku kala aku mau ngasih pengumuman”. Ketua
kura-kura mulai frustasi, pelupuk matanya kini berlinang air mata sebesar biji
jagung.
“Ketua gak perlu
bersedih. Aku toh jadi anggotamu yang paling setia, tho?” katanya narsis. “Aku
punya kenalan, dia itu Aikidoka lho!”
“Hah! Benarkah? Aku
ingin belajar Aikido sejak lama. Mengapa kamu baru bilang sekarang?” ketua
kura-kura loncat kegirangan, nyaris melakukan corkscrew backflip. Tapi ia hanya terlihat seperti kayang.
“Tapi dia kelinci.
Aku gak mau ketua ku dekat dengan kelinci!”
Karena ketua
kura-kura sudah terlalu jengah dan kecewa dengan anggotanya, maka perkataan
kura-kura itu hanya di-iya-kan saja.
***
Beberapa saat
berlalu, akhirnya ketua kura-kura dan ketua kelinci bertemu. Karena mereka
sudah saling kenal dan pernah makan Ramen bareng, obrolan yang terjadi tidak
sedingin saat pertemuan di dekat Linggarjati tempo hari. Kali ini mereka serius
membicarakan Aikido.
Akhirnya ketua
kura-kura sepakat untuk daftar Aikido yang ternyata lokasinya di Kota Wisata
sektor Kyoto. Tak diduga, ternyata ketua kelinci sedang mempersiapkan dirinya
untuk ikut ujian Shodan alias ujian sabuk hitam. Karena kegigihan dan ketulusan
hatinya, meskipun dengan cidera bahu, ketua kelinci berhasil melalui ujian itu
dengan sempurna.
Ketua kura-kura
merasakan kehangatan saat dekat dengan ketua kelinci. Perasaan ini jarang didapat
saat ia bersama anggota kura-kura yang lain. Perasaan itu perlahan semakin
hangat setelah ia memutuskan untuk meninggalkan anggotanya demi menjadi ketua
kura-kura yang lebih baik.
Kocap kacarita, ketua
kura-kura dan ketua kelinci membentuk sebuah mahligai cinta. Mereka memiliki
keturunan yang lucu dan menggemaskan. Ada yang berbentuk kura-kura mungil
dengan kuping panjang dan ekor bulat berbulu seperti bunga Dandelion, ada juga
yang berbentuk seperti kelinci dengan tempurung berbulu nan empuk.
Written
By: