ukiran diksi dalam relung malam
nampak bias tanpa pelita
tepian pagi tak kunjung bersua
untaian nada yang hanya fana
karena semua hanya terpejam
elang kini hanya menatap nanar
mawar pun hanya menawarkan duri
samudera mengalun seakan naif
di atas kertas hanya secarik
tak gentar walau sebatas pena
pelangi meliuk di kaki cakrawala
hingga malam berangsur kekal
acuh jua mendengar sang arif
hingga lupa raga tak abadi
debur ombak memecah pantai
angin malam mendesir lirih
rantai imaji tak mungkin lekang
isyarat lingua jelas terpampang
angan melesat menembus awan
ketika mentari merangkul sukma
ukiran namamu telah tersemat.
Written by:
Angga Hardy