Belai nafasku menyibak samudera
Yang semakin fana dilahap waktu
Memudar seperti senja
Seperti secangkir teh.
Bintik pilu menghampar di padang tulip
Seperti lilin-lilin kecil
Yang gemetar
Yang takut akan angin.
Aku rindu senyum hangatmu
Bahkan ketika ia tersimpul
Di bibirmu yang mungil
Dari sudut mataku
Satu keajaiban tercipta dari ketiadaan
Dari sebuah kemustahilan
Yang menari di atas akal manusia
Hingga lupa mengarungi samudera.
Aku yakin sinar itu ada
Yang pernah mengiringi aku
Mengarungi samudera itu
Sinar dari ketiadaan.
Aku pernah melukis langit malam
Dengan jutaan tinta emas
Di atas kanvas kusam
Yang tak mungkin bercahaya
Kekasih,
Kan kulukiskan semesta dengan berlian
Dari dasar samudera terdalam
Sebagai hadiah ulang tahunku
Yang entah tinggal berapa.
Terbanglah wahai malaikat penjaga langit
Terbanglah tinggi
Hingga kau bisa melihat namamu
Terukir di tengah semesta.
Jangan lagi kau urai air matamu
Menjadi helai helai sayap yang patah.
Yang melesapkan segala anganmu.
Menenggelamkan samuderamu.
Karena aku ingin selalu
Melihat senyumanmu
Saat mataku mulai terpejam
Selamanya.
Written by:
Angga Hardy