Dua titik yang saling mengorbit
Dalam asa yang entah apa.
Aksara yang tak pernah tergambar
Dalam lisanmu yang penuh lingua.
Partikel semesta menyatu menjadi debu
Kemudian terciptalah kamu
Sebuah titik yang sedang mengorbit
Dalam asa yang entah apa.
Tak perlu bergandeng tangan
Untuk tahu akhir tujuan.
Cukup memetik awan
Dan terbang ke gunung langit.
Simpul imaji perlahan merongga.
Memahat kenangan di balik samudera.
Pasir pun hanya tersenyum
Melihat ombak berdesir lirih.
Dua titik yang saling mendekat
Dalam asa yang entah apa.
Diam mengarungi angin
Dengan daun tak tentu arah.
Dawai pelangi mengalun merdu
Seiring nyiur di pesisir
Yang berdansa sendiri
Meski di keramaian malam.
Aku ingin mendengar senyummu
Memeluk hati yang termenung
Dua titik yang saling bertemu
Dengan mawar merah mereka gapai.
Suara-suara berarakan di pelupuk mata
Yang tak tersentuh oleh jemari.
Rerumputan terhampar di padang pasir
Seperti fatamorgana namun tak maya.
Dua titik yang telah bersatu
Lelah sudah mengorbit semu
Berdampingan mereka berjalan
Menyusuri lautan sampai entah kapan.
Written by:
Angga Hardy