Head

Selasa, 29 September 2015

Ruang Gelap

Ada sebuah ruangan di sudut yang gelap itu, dengan pintu besar yang terbuat dari kayu oak, yang banyak terdapat ukiran kata-kata berwarna emas, dan gagangnya yang terbuat dari tembaga. Dinding ruangan itu hanya memiliki satu jendela yang menghadap ke arah matahari terbit, dan sebuah cermin kecil di sisi yang lain. Namun, entah mengapa hanya sedikit berkas cahaya yang bisa masuk ke dalam ruangan itu, sehingga aku tak terlalu yakin apakah warna karpetnya merah atau bukan. Bisa aku pastikan kalau dinding ruangan itu terbuat dari kayu.

Tidak ada penjaga di dalam ruangan itu, padahal di sana ada kotak kaca yang besar yang berisi ratusan bahkan mungkin ribuan kupu-kupu. Mereka tampak terbang dengan gembira, jadi kurasa aku tak perlu terlalu khawatir. Hal yang membuatku penasaran adalah sebuah kotak musik di sebelahnya. Kotak musik itu selalu memainkan lagu yang sama berulang-ulang. Lagu yang cukup menenangkan hati, tetapi entah mengapa lama-lama jadi menyeramkan. Seingatku, aku ada di ruangan ini sudah cukup lama dan musik itu belum pernah berhenti, seperti ada seseorang yang terus memutarnya.

Kadang aku merasa tak sendiri di dalam ruangan itu. Aku tak bisa memastikannya, karena sudut-sudut ruangan itu terlalu gelap. Aku bahkan tak tahu seberapa besar ruangan itu sebenarnya. Yang pasti, di saat tertentu terdengar alunan musik yang sangat merdu dari salah satu sudutnya. Bukan, bukan berasal dari kotak musik itu. Aku tahu itu! Aku tak ingat kapan dan di mana aku pernah mendengarnya, tetapi senyumku mendadak merekah saat alunan musik itu terdengar.

Oh ya, aku baru ingat. Aku menemukan secarik kertas di dekat kotak kaca itu. Tertulis sebuah puisi dengan huruf sambung yang tampaknya sengaja dibuat seperti itu agar sulit dipahami. Puisinya seperti ini:

"Ruang hitam yang tak pernah ingat
Kapan terakhir ia bertemu cahaya
Hanya rasa yang ia punya
Untuk melepas belenggu dari kata.

Untaian lavender berbalut emas
Seakan menahan waktu untuk bekerja
Hingga nada tak jadi melodi
Kata tak lagi jadi diksi.

Binar bintang di permadani hitam
Masih terasa bias oleh aurora
Bahkan kuda putih yang gagah
Harus belajar cara untuk pulang.

Ruang hitam yang jadi pemisah
Antara malam dengan malam
Tak pernah ingatlah ia
Kapan terakhir bertemu cahaya.

Mentari seakan sedang bermain
Dengan anak-anak awan di kaki langit
Lupa kapan ia pulang ke cakrawala
Untuk kembali menerangi malam.

Jika dua malam masih dipisahkan gelap, dengan cahaya apa lagi aku bisa melihat senyum itu tersimpul di bibirmu?"

Kemudian aku tersadar dari lamunanku. Kopiku sudah dingin.

Written by:
Angga Hardy