Apakah purnama saja tak cukup
Untuk sekedar menerangi awan
Sehingga sang merpati
Ingat jalan pulang?
Apakah semesta saja tak cukup
Untuk menampung samudera
Yang kelak aku arungi
Dengan perahu kertas itu?
Apakah sebuah keabadian tak cukup
Untuk menanti pelangi tersenyum
Di antara awan hitam
Ketika petir menggemuruh?
Apakah mungkin?
Mungkin dedaunan itu
Masih ingin memeluk ranting
Tetapi dihempas semilir angin
Hingga jatuh entah di mana.
Mungkin awan itu
Sebenarnya ingin bernyanyi
Tetapi diajak angin
Menuju teras istana matahari
Mungkin aku terlalu jauh terbang
Ketika angin membawaku
Menyelam ke dasar mimpi
Yang berselimut angan
Mungkin aku bermimpi?
Mimpi yang tak bisa aku tinggalkan.
Yang terlalu dalam untuk dipijak.
Menghapus segala melodi.
Meruntuhkan semesta yang hampir jadi.
Kapan aku terbangun?
Di mana sinar mentari terakhir itu?
Berapa lama sebuah keabadian?
Mengapa sayapku tak membentang?
Tanya?
Ya, tanya yang mematikan pelita
Di tengah gurun laut
Yang sebenarnya terang
Tapi tak dapat terlihat.
Tanya yang menyulut api
Di tiap ujung angin kutub
Yang bertiup entah dari mana,
Mimpi? Atau angan?
Atau aku hanya sedang tertidur pulas
Di atas tumpukan harapan yang nyaman?
Written by:
Angga Hardy