ibarat sebuah jalan lebar yang terlihat sempit.
Runtutan bunyi, memecah kelam di sana.
Tak ayal dia mencari arti di sisi sisi jemari
Meski terkadang menyayat,
ujung ujung tajam sudut abjad tak gentar menghujam,
menyobek dinding kesombongan,
seperti biasa.
Mereka seakan berlomba memenuhi hampa,
meskipun mereka sadar mereka sama seperti yang dituju.
Hingga pada suatu ketika,
mereka sadar hanya sekumpul resonansi
dan impuls yang saling bercengkrama.
Di jalan jalan kampung,
di permadani hutan,
di kelopak lautan,
di mana terbayang yang tak kasat,
di sana kami bergaung.
Ah,
di dalam gagasan yang tak bertepi
bahkan di ekor mata seorang pemimpi,
tak akan ada guna jika tak mampu paham.
Belati mampu menguras darah dalam nadi,
diksi dapat mengeringkan jiwamu
hingga terpencar saat tersapu angin sore.
Hanya terdiam,
menanti gerombolan arogansi imaji datang menerkam.
Pucat pasi,
runtutan teori artikulasi menari-nari.
Ambigu kini.
lalu terlihat rentetan makna tak terbendung.
Tidak terlalu hebat, namun mahal untuk dirangkul.
Sengaja tertulis dengan tinta emas
yang sebenarnya yanya bulir pasir dari bilah daun kering
tertatih-tatih memilahnya,
mengumpulkannya dalam bejana semu,
bernama logika.