Seperti terlena untuk membiarkan diri mengarung ke sana.
Aku melihat wajah lesu di antara angin yang menderu.
seperti wangi aster
dan debu jalan yang bercampur di musim gugur
Seraya meniru perahu kertas yang tertiup,
yang tenggelam,
yang koyak dimakan detik arloji yang terus memburu.
sekilas imaji terlintas,
batas-batas nanar bertebar
menatap pulang tak kunjung lekang
kamu,
titik air yang tak habis kuhitung ketika hujan turun.
Juga warna warni yang bukan pelangi
kamu,
seraya masuk,
bergeliat bulu kuduk.
Merengkuh
Meleburkan semua asa dalam kepalaku,
ibarat garam yang larut
dalam lautan tangis dan canda tawa.
bersemayam di tiap kekakuan sendi yang layu,
juga detak nadi yang berpikir
Berdegup melintasi arteri darahku,
menuju jantung tempat dimana aku kini dapat hidup
Kini,
kamu silau akan hal yang pernah pekat,
buta saat melihat cahaya,
tuli dalam kebisingan pikiranmu.
Kini pasi
"terlalu dini", katamu
perihal aku yang meracau masa nanti.
kalau tidak salah...
seingatku
Walau acap kali mencoba menari-nari,
buntu kian memilu.
tertegun!
Sambil mencoba mengangkat kepala setinggi angan angan sang pemimpi.
Merangkaki tonggak yang terpancang di sesalmu
aku terperangah melihat gelakmu yang meledak sorak melihatku tersungkur.
Terbahak seiring butir yang pecah di matamu
Sembari menyeka derai tangis orang lain,
padahal kekasihmu sudah lama pilu.
Oh... Siapakah aku yang tega berbuat?
pikirmu mengurungku sebagian,
juga mimpiku yang memindik pelan.
Sampai kita bertemu
di pertempuran sepertiga malam
Hanya berbekal nyali tanpa sehelai imaji,
kau berperang membelah hulu.
Pada akhirnya kau berlabuh juga di muara.
Kepada setiap tatapan sendu penuh makna yg menghujam,
aku ingin memujamu sampai senja tenggelam.
Sampai temaram terbuai tak lekang sehela nafaspun untuk berhenti mengagumi indahmu...
meski terengah...
Sekedar #BelajarPuisi bersama,
Daniela Hawwa Madinah
Dimas Kurnia Setyawan
Ferika Amalia
