
Senyum setipis sinis di atas khilaf manusia merekah,
Selagi hati terdalam memilukan amarah.
Berapa banyak pikir yg akan melawan?
Tatap demi tatap
Yang setengah mati membuatku hilang sebagian.
Tolong beri tahu,
Apa ada hitunganku yang terlewat?
Pikir lantang tak kunjung menang.
Dikejar asa terus berkumandang.
Alibi pun meradang.
Apa yang harus ku terjang?
Meratap tenggelam dalam dinding tulisan darahku.
Aku mengais cepat dalam lambat diriku ke mana pun samudera ini berujung.
Aku bukan saya
Aku hanyalah kami yang lebih memilih untuk diam,
Tertawa,
Berdansa,
hingga akhirnya mengharap air mata sendiri sendiri
Juga bukan sejumput kamu atau yang lainnya
Seperti senyawa berhambur di udara, dan kalian menghirupinya satu per satu,
Bagian per bagian,
Hingga nadi mengental
Kala itu lah tatapan tajam terhunus.
Menghujam.
Sangat dalam hingga gema teriakanku tak mampu memantul kembali.
Aku, diberi asa, tenggelam rasa
Tergeletak aku nanar di tengah gemerlap duniawi
Mataku tak lagi melihat masa lalu,
Imajiku tak lagi menyurati masa depan,
Hanya tubuh ini yang terlelap di antara baju kulit.
Hatiku menuturkan sesuatu yang kasat,
Tentang guratan intuisi yang mengeriput.
Perlahan, bayanganku mulai menikam
Ia terlihat lusuh,
Entah karena usang atau memang enggan terbasuh.
Aku melihat harapan di antara jenuh,
Dan pasir yang berserakan.
Mereka bilang, “sebaiknya aku pulang segera”
Tapi diam–diam, kalian mencuri jejak agar aku kian sesat
Aku jarang segembira saat pergantian tahun,
Tapi aku sesenang seorang gadis kecil yang dibelikan boneka kesukaannya,
Terkadang
Sekedar #BelajarPuisi bersama
Noval Suryanata
Daniela Hawwa Madinah
Dimas Kurnia Setyawan
Ferika Amalia
Noval Suryanata
Daniela Hawwa Madinah
Dimas Kurnia Setyawan
Ferika Amalia
Arranged By: